Thursday, August 2, 2012

Laporan Akhir Praktikum Dasar-Dasar Hortikultura


LAPORAN AKHIR PRAKTIKUM
DASAR-DASAR HORTIKULTURA (AGH 240)
OLEH:
BUDI YADHIKA SARJONO (A24100003)
NUR AINI ALFIAH (A24100020)
DANU KUANSA (A24100048)
SITI ZAMROH (A24100055)
RIMA MARGARETHA R. G. (A24100083)
I MADE ARISUDANA P. (A24100130)
AZMIDA ANA SHOFIANA (A24100155)
MASTHA TARIDA M. SITINJAK(A24100194)
MUHAMMAD TAKBIR (A24100199)
WILDAN NOVEBIYATNO (F14090097)

ASISTEN:
RISTA DELYANI
DEPARTEMEN AGRONOMI DAN HORTIKULTURA
FAKULTAS PERTANIAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
PENDAHULUAN

LATAR BELAKANG
Indonesia memiliki sumber daya alam yang melimpah. Sumber daya tersebut akan sia-sia apabila tidak dimanfaatkan secara potensial. Sumber daya potensial tidak hanya berasal dari sumber daya alam, tetapi juga berasal dari sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang dibutuhkan tidak harus berkuantitas besar, tetapi juga harus memiliki kualitas tinggi. Oleh karena itu, apabila kedua sumber daya potensial ini digabungkan maka akan dapat mengembangkan pertanian Indonesia.
Pertanian merupakan tulang punggung perekonomian. Pertanian mensuplai bahan pangan, bahan baku industry, dan tekstil. Peran pertanian dalam mensuplai bahan pangan sangat besar. Dalam suplai bahan pangan ini, komoditas hortikultura berperan relatif besar.
Hortikultura merupakan kegiatan budidaya tanaman dalam skala yang lebih padat modal, padat tenaga kerja, dan lebih intensif, karena mutu hasil merupakan tujuan akhir dari suatu budidaya tanaman.Walaupun begitu, budidaya hortikultura akan menghasilkan keuntungan yang tidak sedikit. Komoditas hortikultura mencakup komoditas buah, sayur, tanaman hias, dan tanaman obat.
Produk hortikultura mempunyai karakteristik yang berbeda dari produk agronomi. Komoditas hortikultura dimanfaatkan dalam keadaan masih hidup atau masih segar, perisibel, dan mempunyai kandungan air yang tinggi. Contoh komoditas hortikultura seperti sawi, kangkung, tomat, cabai, jambu, dan sebagainya.
Dalam budidaya hortikultura, karakteristik tanaman harus diketahui. Contohnya tomat tidak cocok pada tempat yang tergenang air, sawi tidak cocok pada tanah yang terlalu sering ditanami. Hal ini diperlukan agar didapatkan produk akhir yang optimal. Selain itu dalam budidaya hortikultura juga harus diperhitungkan jenis varietas yang cocok dan unit lapang yang akan di berikan.
Untuk menunjang pemahaman tentang hortikultura maka diadakan praktikum dasar-dasar hortikultura. Paraktikum dasar-dasar hortikultura ini memepelajari tentang cara budidaya tanaman hortikultura, karakteristik tanaman, OPT, dan manajemen pengolahan budidaya hortikultura. Walaupun tidak semua komoditas hortikultura dipelajari. Mahasiswa dituntut bekerja dengan rajin, terampil, tangkas, dan dapat kerjasama kelompok dengan baik. Setiap mahasiswa dituntut untuk terlibat langsung dalam setiap tahap atau proses kegiatan mulai dari persemaian sampai panen dan pasca panen.

TUJUAN
Tujuan praktikum dasar-dasar hortikultura ini adalah untuk mengetahui dan mengaplikasikan cara budidaya tanaman hortikultura, mengetahui karakteristik tanaman hortikultura. Pengenalan berbagai macam greenhouse dan kegiatan nursery. Selain itu, praktikum ini juga bertujuan untuk mengetahui manajemen pengolahan budiadaya hortikulura. 
BAB 1.
BUDIDAYA TANAMAN
TINJAUAN PUSTAKA
KANGKUNG
Kangku            ng termasuk suku Convolvulaceae atau keluarga kangkung-kangkungan.  Kangkung ditemukan di berbagai daerah tropis dan subtropis, walaupun tidak diketahui darimana asalnya. Di inggris tanaman ini dikenal sebagai water spinach, river spinach, water morning glory, water convolvulus. Tanaman ini disebut  phak bung di Thailand dan kangkung di Malaysia dan Indonesia. Tanaman bernama Latin Ipomoea reptans ini terdiri dan dua varietas, yakni kangkung darat yang disebut kangkung cina dan kangkung air yang tumbuh secara alami di sawah, rawa, atau parit. Perbedaan antara kangkung darat dan kangkung air terletak pada warna bunga. Kangkung ai berbunga putih kemerah-merahan, sedangkan kangkung darat bunga putih bersih.
Bagian tanaman kangkung yang paling penting adalah batang muda dan pucuk-pucuknya sebagai bahan sayur-mayur. Kangkung selain rasanya enak juga memiliki kandungan gizi cukup tinggi, mengandung vitamin A, B dan vitamin C serta bahan-bahan mineral terutama zat besi yang berguna bagi pertumbuhan badan dan kesehatan. Disamping itu hewan juga menyukai kangkung bila dicampur dalam makanan ayam, itik, sapi, kelinci dan babi. Seorang pakar kesehatan Filipina: Herminia de Guzman Ladion memasukkan kangkung dalam kelompok "Tanaman Penyembuh Ajaib", sebab berkhasiat untuk penyembuh penyakit "sembelit" juga sebagai obat yang sedang "diet". Selain itu, akar kangkung berguna untuk obat penyakit "wasir".

CAISIN
            Seperti  tanaman lainnya caisin juga memiliki beberapa varietas, salah satunya adalah varietas Tosakan.  Caisin varietas Tosakan dapat dipanen pada umur 22 hari setelah tanam,  tinggi tanaman 40 cm, warna tangkai putih kehijauan, jumlah daun 12 helai,  bentuk daun eliptik, memiliki potensi hasil rata-rata 400 gram per tanaman, ciri yang paling khas caisim varietas Tosakan dibanding dengan tanaman caisin varietas lain adalah memiliki warna daun hijau muda, biasanya tanaman caisin yang banyak di budidayakan adalah tanaman caisin warna daunnya hijau tua.    Selain warna daun, ciri khas dari varietas Tosakan adalah memiliki rasa daun yang tidak pahit, sehingga varietas Tosakan ini banyak digemari oleh masyarakat (East West Seed Indonesia, 2006).
Caisin dapat ditanam sepanjang tahun di daerah subtropika dan tropika pada kisaran suhu optimum 25oC – 36oC.  Pemberian cahaya dan drainase yang baik serta jenis tanah lempung berpasir atau lempung berliat yang subur baik untuk pertumbuhan tanaman caisin, kemasaman tanah yang baik untuk tanaman caisin berkisar antara pH 5.5 – 6.5. Kelembaban media pertumbuhan yang baik mendukung pertumbuhan dan perkembangan tanaman caisin yang cepat.  Penyiraman air dua sampai tiga kali sehari diperlukan untuk mendukung pertumbuhan tanaman muda (Opena dan Tay, 1994). Agar dapat tumbuh optimal tanaman caisin  harus ditanam di lahan yang memiliki unsur  hara makro dan mikro yang cukup tinggi dan kondisi tanah yang gembur, salah satu unsur hara makro yang sangat dibutuhkan oleh sayuran ini adalah unsur nitrogen, karena nitrogen merupakan unsur pokok pembentuk protein, asam nukleat, dan klorofil yang berguna dalam proses fotosintesis (Palungkun dan Budiarti, 1993). Menurut Haryanto, dkk (2006), tanaman sayuran daun membutuhkan pupuk dengan unsur nitrogen yang cukup tinggi agar sayuran dapat tumbuh dengan baik, lebih renyah, segar dan enak dimakan.

BAYAM
            Bayam (Amaranthus spp.) merupakan salah satu jenis tanaman hortikultura yang cukup terkenal di Indonesia.  Tanaman yang merupakan bagian dari famili Amaranthaceae ini berasal dari dataran Amerika. Tanaman ini kini sudah tersebar di daerah tropis dan subtropis seluruh dunia. Bayam sebagai sayur hanya umum dikenal di Asia Timur dan Asia Tenggara, sehingga disebut dalam bahasa Inggris sebagai Chinese amaranth. Pada umumnya dikenal 2 jenis bayam yang dikenal secara luas, yaitu bayam merah dan bayam hijau. Di tingkat konsumen, dikenal dua macam bayam sayur: bayam petik dan bayam cabut. Bayam petik berdaun lebar dan tumbuh tegak besar (hingga dua meter) dan daun mudanya dimakan terutama sebagai lalapan, sedangkan bayam cabut berukuran lebih kecil dan ditanam untuk waktu singkat (paling lama 25 hari), lebih cocok untuk dibuat sup encer seperti sayur bayam. Bayam petik biasanya berasal dari jenis A. hybridus dan bayam cabut terutama diambil dari A. Tricolor.
            Tanaman bayam merupakan salah satu jenis sayuran komersial yang mudah diperoleh di setiap pasar, baik pasar tradisional maupun pasar swalayan. Ciri-ciri jenis bayam yang enak untuk dimakan adalah daunnya besar, bulat, dan empuk. Bayam ini dapat diolah sebagai sayur, pecel, atau gado-gado. Sedangkan bayam yang berdaunbesar, tipis, dan alot lebih enak digoreng campur tepung untuk rempeyek. Berdasarkan cara penanamannya jenis bayam dibedakan menjadi bayam cabut dan bayam petik. Bayam cabut adalah bayam yang dipanen dengan cara dicabut seluruh bagian tanaman beserta akar-akarnya. Bayam petik adalah bayam yang pemanenannya dilakukan dengan cara dipetik daun atau pucuk daunnya saja sehingga dapat dilakukan berulang kali sepanjang tanaman masih produktif. Dalam tanaman Bayam banyak terdapat kandungan gizi dan vitamin. Diantaranya adalah protein, Lemak, Karbohidrat, Kalsium, Fosfor, dan zat Besi. Sedangkan vitamin yang terkandung dalam bayam adalah vit A, Vit B1 dan Vit C.

CABAI
Cabai (Capsicum Annum varlongum) merupakan salah satu komoditas hortikultura yang memiliki nilai ekonomi penting di Indonesia. Cabe merupakan tanaman perdu dari famili terongterongan yang memiliki nama ilmiah Capsicum sp. Cabe berasal dari benua Amerika tepatnya daerah Peru dan menyebar ke negaranegara benua Amerika, Eropa dan Asia  termasuk Negara Indonesia.  Tanaman cabe banyak ragam tipe pertumbuhan dan bentuk buahnya. Diperkirakan terdapat 20 spesies yang sebagian besar hidup di Negara asalnya.  Masyarakat pada umumnya hanya mengenal beberapa jenis saja, yakni Cabe besar, cabe keriting, cabe rawit dan paprika. Secara umum cabe memiliki banyak kandungan gizi dan vitamin. Diantaranya Kalori, Protein, Lemak, Kabohidarat, Kalsium, Vitamin A, B1 dan Vitamin C. Cabai merah dapat dibudidayakan di dataran rendah maupun dataran tinggi, pada lahan sawah atau tegalan dengan ketinggian 0-1000 m dpl. Tanah yang baik untuk pertanaman cabai adalah yang berstruktur remah atau gembur, subur, banyak mengandung bahan organik, pH tanah antara 6-7. Kandungan air tanah juga perlu diperhatikan. Tanaman cabai yang dibudidayakan di sawah sebaiknya ditanam pada akhir musim hujan, sedangkan di tegalan ditanam pada musim hujan.

TERUNG
Terung (Solanum melongena, di Pulau Jawa lebih dikenal sebagai terong) adalah tumbuhan penghasil buah yang dijadikan sayur-sayuran. Asalnya adalah India dan Sri Lanka. Terung berkerabat dekat dengan kentang dan leunca, dan agak jauh dari tomat. Terung ialah terna yang sering ditanam secara tahunan. Tanaman ini tumbuh hingga 40-150 cm (16-57 inci) tingginya. Daunnya besar, dengan lobus yang kasar. Ukurannya 10-20 cm (4-8 inci) panjangnya dan 5-10 cm (2-4 inci) lebarnya. Jenis-jenis setengah liar lebih besar dan tumbuh hingga setinggi 225 cm (7 kaki), dengan daun yang melebihi 30 cm (12 inci) dan 15 cm (6 inci) panjangnya. Batangnya biasanya berduri. Warna bunganya antara putih hingga ungu, dengan mahkota yang memiliki lima lobus. Benang sarinya berwarna kuning. Buah tepung berisi, dengan diameter yang kurang dari 3 cm untuk yang liar, dan lebih besar lagi untuk jenis yang ditanam.
Dari segi botani, buah yang dikelaskan sebagai beri memiliki banyak biji yang kecil dan lembut. Biji itu dapat dimakan tetapi rasanya pahit karena mengandung nikotin, sejenis alkaloid yang banyak dikandung tembakau.

KACANG PANJANG
Untuk kacang panjang, benih tidak perlu disemaikan secara khusus, tetapi benih langsung tanam pada lubang tanam yang sudah disiapkan (Perdana 2009). Kacang panjang sebenarnya dapat ditanam di segala macam tanah, walau berdasarkan data, hasil dapat sedikit lebih baik pada lempung mineral daripada dalam gambut (Williams dan Peregrine 1993).
            Adaptasi kacang panjang terhadap lahan masam cukup baik. Nilai pH yang cocik sekitar 5,5. Kacang panjang bisa ditanam di lahan tegalan, lahan sawah, maupun pekarangan. Sebaiknya ditanam diawal atau akhir musim hujan. Kacang panjang tidak mesti ditanam dalam bedengan. Bila ingin membuat guludan dalam barisan cukup dengan menaikkan tanah di kiri kanan tanaman. Selain itu, kacang panjang tipe merambat perlu diberi rambatan (ajir). Bila tidak maka pertumbuhan tanaman akan menumpuk tak menentu (Nazzarudin 2003).
Kacang panjang (Vigna sinensis) lebih sering dipanen polongnya secara keseluruhan sebagai sayur. Panen untuk sayur dilakukan mulai umur 50-60 hari. Sedangkan polong yang disiapkan sebagai benih baru dipanen setelah benar-benar tua (Nazzarudin 2003). Untuk mendapatkan kacang panjang segar berkualitas baik harus dipetik setiap hari atau dua hari sekali. Bila tidak, kacang panjang akan terlalu tua dan keras. Mereka harus dipetik sebelum perikarp menjadi seperti spons (Williams dan Peregrine 1993).

BAHAN DAN METODE

ALAT DAN BAHAN
            Alat yang digunakan pada praktikum Dasar-Dasar Hortikultura adalah cangkul, kored, penggaris, ember, gelas bekas, box panen, dan timbangan. Sedangkan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah benih kangkung, benih cabe, benih bayam, benih tomat, benih caisim, benih kacang panjang, dan pupuk kocor. Selain alat- alat dan bahan yang telah disebutkan, kami juga menggunakan ajir, raffia, komoditas buah tropis, green house.

METODE PELAKSANAAN
Teknik budidaya yang telah dipelajari terfokus pada tanaman sayur-sayuran antara lain kangkung, caisin, bayam, terung, cabai, dan kacang panjang. Tanaman yang langsung bisa ditanam (direct planting) pada lahan dengan cara ditugal (kangkung dan kacang panjang), dan ditebar (bayam dan caisim) sedangkan tanaman yang memerlukan persemaian dan pemindahan sebelum dibudidayakan pada bedengan yang tersedia (indirect planting) adalah terung dan cabe.
Telah disediakan lahan berupa bedengan panjang dengan ukuran 60 m X 1 m. Bedengan tersebut dibagi menjadi 3 bagian dengan ukuran masing-masing 20 m X 1 m. Setiapkelompok diwajibkan memelihara tanaman dengan baik dan membuat satu buku catatan yang digunakan untuk mencatat berbagai macam keperluan, seperti: penggunaan sarana produksi, tenaga kerja, serta data percobaan dan buku catatan ini akan diperiksa secara rutin oleh asisten.Bedengan yang telah dibagi menjadi 3 bagian dengan ukuran bedeng masing-masing 1 m X 20 m akan digunakan untuk kegiatan budidaya. Pada bedeng pertama ditanam kangkung yang nantinya diganti dengan cabai, bedeng kedua ditanam caisin lalu terung, dan bedeng ketiga ditanam bayam lalu kacang panjang.
Pada masing-masing komoditas dilakukan kegiatan penyulaman bila tanaman tidak tumbuh normal atau mati. Kegiatan pemupukan dilakukan berdasarkan jadwal yang telah ditetapkan. Setiap minggunya dilakukan pengamatan terhadap tanaman contoh dan kegiatan perawatan. Penyiraman dilakukan setiap hari dengan pembagian regu piket dari masing-masing kelompok. Pada akhir praktikum dilakukan kegiatan pemanenan dan penghitungan hasil panen pada tanaman contoh.

HASIL DAN PEMBAHASAN

KANGKUNG
Benih kangkung: 800 butir
Daya berkecambah: 22%
Panen ke-
Berat (kg)
1
3,7
2
3,1

Dari penanaman yang dilakukan, daya berkecambah kami sangatlah kecil yakni hanya 22 persen dari total 800 butir benih yang kami tanam. Hal ini mngakibatkan panen kami juga menjadi sangat sedikit. Badan Pusat Statistika menunjukkan bahwa rata-rata panen berbagai kota di Indonesia adalah 9,6 ton per hektar dan bila dibandingkan dengan panen kami yakni 6,8 kg per 20m2 adalah 19,2 kg/20m2: 6,8 kg/20m2. Hampir 3 kali lipat lebih besar daripada hasil panen kami.
Hal ini menunjukkan adanya kesalahan yang kami lakukan di lapangan. Hal tersebut adalah penyiraman yang kami lakukan tidaklah rutin sehingga tumbuh kangkung tidak optimal, banyak pula kangkung yang mati kekeringan. Faktor lain yang memengaruhi adalah tingkat kesuburan tanah. Tanah yang menjadi tempat percobaan kami sangatlah tidak subur. Hal ini menjadi faktor terpenting mengapa panen kami menjadi sangat sedikit. Lapisan top soil lahan kami sangat sedikit sehingga sedikit hara yang tersisa, penambahan pupuk yang kami lakukan juga kurang membantu karena curah hujan di bogor sangatlah tinggi sehingga pupuk yang kami berikan cepat terbawa arus air.

CAISIN
            Pengolahan lahan dan pemberian pupuk dasar biasanya dilakukan jauh sebelum masa tanam  tiba. Pupuk  dasar mengunakan pupuk organik dimana kandungan unsur haranya relatif kecil. Pemupukan ini ditujukan untuk perbaikan aerasi tanah. Namun karena waktu praktikum harus segera dilaksanakn sedangkan pupuk organik masih belum terurai dengan sempurna, mungkin kondisi ini pula yang mengakibatkan kesuburan tanah tidak terlalu baik bagi pertumbuhan caisin. Lahan yang kelompok kami gunakan juga telah lama dibuka dan ditanami tanaman yang sama, sehingga memungkinkan kesuburannya berkurang. Untuk pertumbuhan caisim yang maksimum, diperlukan tanah yang subur yang mengandung banyak unsur hara.
Pemeliharaan harusnya dilakukan rutin. Misalnya saja penyiraman yang harus dilakukan tiga kali sehari untuk caisin. Sedangkan pada praktikum kali ini hanya dilakukan penyiraman 2 hari sekali, itupun jika mahasiswa tidak memiliki kesibukan yang lain yang harus diselesaikan. Sehingga pada pertumbuhanya menjadi kurang maksimal dan terlihat gejala yang menunjukkan bahwa tanaman kekurangan air. Meskipun daya berkecambahnya mencapai 75% pada 1 MST, serta menjadi 80% pada 2 MST, tanaman yang tumbuh memiliki pertumbuhan yang mengecewakan karena tanaman tersebut kerdil dan tidak sebesar tanaman kelompok lain yang lahannya memang sudah subur. Selain penyiraman, pemupukan juga salah aplikasi karena pupuk NPK yang telah dilarutkan penyiramannya mengenai daun caisin yang seharusnya jangan sampai terkena daun karena akan mengakibatkan daun menggulung akibat terkena paparan pupuk yang tidak tepat. Kendali gulma yang dilakukan juga tidak maksimal, karena masih banyak gulma yang hidup disamping tanaman budidaya yang mengakibatkan adanya persaingan perebutan unsur hara oleh tanaman budidaya dan gulma. Pengendlian HPT juga kurang karena saat pemanenan, daun caisin banyak yang dimakan ulat dan sangat parah hingga terlihat tidak bagus, seharusnya tanaman yang meskipun organik, masih bisa mempertahankan penampilan mutunya agar bisa terjual dipasaran.
Pemanenan dilakukan 4 MST dan menghasilkan 4,4 kg. hasil tersebut sangatlah sedikit bila dibandingkan dengan kriteria pemanenan pada caisim tosakan, yaitu dipanen pada umur 22 hari setelah tanam dengan tinggi 40 cm, jumlai helai dan 12, dan hasil rata-rata 400 gram pertanaman. Hal ini dipengaruhi oleh berbagai faktor yang terjadi dilapangan.

BAYAM
            Perawatan pada tanaman hortikultura seharusnya dilakukan rutin karena tanaman hortikultura merupakan tanaman yang rentan dan memerlukan banyak air. Pemberian pupuk dilakukan dengan jadwal yang telah ditetapkan. Hasil pertumbuhan tanaman bayam yang kami tanam menunjukkan hasil yang kurang baik, diduga hal ini terjadi karena bagian top soil pada lahan telah terangkat yang membuat kondisi lahan tidak baik bagi pertumbuhan tanaman hortikultura. Penyiraman kami lakukan pada jam di luar praktikum dengan membagi jadwal piket masing- masing anggota kelompok.
            Kegiatan pemanenan dilakukan pada waktu 4 MST. Pemanenan ini dilakukan tidak sesuai dengan kriteria panen tanaman bayam. Hal ini dilakukan karena jika tenaman bayam dipanen melebihi waktu panennya maka tanaman tersebut tidak lagi layak konsumsi. Hasil panen yang kami dapat sebesar 7,6 kg. Nilai hasil panen ini dapat dikatakan mengecewakan. Penyebab panen yang kecil ini dapat terjadi dari berbagai aspek.

CABAI
Pada praktikum dasar hortikultura ini, kami menanam cabai yang telah disemaikan selama kurang lebih 14 hari. Cabai yang sebelumnya ditanam dengan bji pada tray memiliki  Daya berkecambah sekitar 16,19% pada 2 MST kemudian daya berkecambah pada 3 MST adalah sebesar 26,67% . Sehingga dari 105 benih yang ditanam, yang tumbuh adalah sekitar 45 tanaman cabai. Tanaman cabai yang telah tumbuh tadi kemudian ditanam di bedengan dengan jarak tanam 20cm x 50cm . setiap 3 MST diberikan perlakuan pemberian pupuk. Pupuk yang diberikan adalah pupuk mutiara NPK jenis kocor.
            Pada tanaman cabai, ada beberapa hal yang diamati yakni tinggi tanaman, jumlah daun, jumlah bunga dan buah. Untuk itu diambil 10 tanaman contoh dari populasi dengan data sebagai berikut:
 
Dari data terlihat pada tanaman contoh ke-3 mati. Hal ini dikarenakan oleh kondisi tanah yang tandus dan kering, sehingga tanaman cenderung mengalami penghambatan pertumbuhan hingga kematian walaupun telah diberikan penyiraman setiap hari dan pembumbunan setiap minggu. Kemudian, pemanenan dilakukan diawal karena tidak tersedianya cukup waktu untuk praktikum ini.

TERUNG
Pada praktikum ini kami melakukan penanaman terung yang sebelumnya telah dilakukan penyemaian dalam tray oleh petugas. Setelah usia penyemain selama 3 MST, tanaman terong tersebut dipindah tanam pada bedengan yang telah disediakan. Jarak tanam yang digunakan adalah 60 X 70 cm. Pada minggu beikutnya, tanaman terong yang tidak tumbuh akan disulam dengan tanaman yang baru. Pada setiap minggunya dilakukan perawatan dan pengamatan terhadap tinggi tanaman dan jumlah daun pada 10 tanaman contoh. Berikut merupakan tabel hasil pengamatan yang kami lakukan.


No.
Tinggi Tanaman
Jumlah Daun
24 April
1 Mei
8 Mei
15 Mei
22 Mei
24 April
1 Mei
8 Mei
15 Mei
22 Mei
1
9.5
10
11
14
18
5
7
8
11
10
2
9.1
9.5
10
11.5
12
3
3
5
7
7
3
9.2
9.5
9.8
10
10
2
3
4
4
4
4
6.5
8.5
8.8
9
9
2
3
5
5
7
5
8.5
9
9.5
10
11
4
5
6
8
7
6
4
6
7
9
13
7
9
13
15
16
7
7
7
8.5
9
13
4
3
5
7
9
8
7
7.5
7.7
8
8.5
3
3
4
4
4
9
6
6.3
6.5
7
7.5
2
3
4
6
6
10
7
8
8.5
9
10
4
5
5
7
7

            Dari data tersebut terlihat bahwa pada tanaman terong kami belum mengalami pembungaan. Jadi dalam budidaya tanaman terong ini kami tidak mengalami pemanenan sehingga kami tidak mengetahui data tentang hasil panen.

KACANG PANJANG
           
Grafik hubungan jumlah daun terhadap umur tanaman
            Berdasarkan grafik diatas, jumlah daun kacang panjang tiap minggunya meninggkat. Hal ini menunjukkan pertumbuhan dan perkembangan berjalan dengan baik.
Pengolahan tanah untuk menanam kacang panjang dimulai dengan menggemburkan tanah. Setelah tanah gembur kemudian diberi pupuk dasar (pupuk kandang) agar pertumbuhan tanaman menjadi lebih baik. Selanjutnya dibuat bedengan dengan ukuran 1 m x 20 m.
            Untuk penanaman, benih kacang panjang ditanam dengan cara direct seedling. Benih tidak usah disemaikan secara khusus, tetapi benih langsung tanam pada lubang tanam yang sudah disiapkan. Lubang tanam dibuat dengan menggunakan tugal. Benih yang digunakan adalah varietas Bonaro. Jarak tanam kacang panjang adalah 50 cm x 25 cm. Untuk satu lubang ditanam dua benih. Namun ada literatur yang menyebutkan jarak tanam adalah 75 cm x 25 cm dan dalam satu lubang bisa dimasukkan 3 benih. Pada lahan ini, kacang panjang direlay dengan bayam. Ketika benih kacang panjang ditanam, masih ada bayam yang tumbuh dan belum dipanen. Sehingga kacang panjang ditanam diantara bayam. Menurut literatur, kacang panjang tidak mesti ditanam dalam bedengan. Bila ingin membuat guludan dalam barisan cukup dengan menaikkan tanah dikiri kanan tanaman sehingga barisan menjadi lelih tinggi.
            Pada 3 MST dilakukan penghitungan daya berkecambah dan diperoleh daya berkecambah sebesar 87%. Pada praktikum ini, untuk benih yang mati tidak dilakukan penyulaman meskipun pada beberapa literatur disarankan untuk disulam. Selain itu, juga dilakukan pengajiran. Ajir nantinya akan digunakan sebagai tempat melilit kacang panjang dalam pertumbuhannya. Menurut Nazaruddin bila tidak diberi ajir, maka pertumbuhan tanaman akan menumpuk tak menentu. Dalam satu lubang tanam diberi satu ajir kemudian ajir antar baris disilangkan dan diikat (empat ajir dalam satu ikataan). Agar lebih kuat, diatas persilangaan ajir diberi ajir lagi kemudian diikat. Dalam satu lahan ini, dibutuhkan 170 ajir.
Pemupukan dilakukan pada 5 MST. Pupuk yang digunakan adalah NPK Mutiara. Dosis pupuk yang diberikan adalah 50 ml/tanaman. Pupuk diberikan dalam bentuk cair, sehingga sebelum disiramkan pada tanaman pupuk dilarutkan terlebih dahulu. Menurut Perdan (2009) pemupukan dilakukan pada umur  4 MST, pupuk berupa urea 150 kg/ha. Jadi untuk lahan seluas 20 m2 dibutuhkan 0,3 kg urea. Untuk pemeliharaan yang lain seperti penyingan gulma dan penyiraman dilakukan setiap minggu.
            Pemanenan kacang panjang pada lahan ini dilakukan pada umur 8 MST (umur 56 hari). Hal ini sesuai dengan yang ditulis Nazzarudin bahwa panen untuk sayur dilakukan mulai umur 50-60 hari dan dapat dipanen beberapa kali. Menurut Williams dan Peregrine untuk mendapatkan kacang panjang segar berkualitas baik harus dipetik setiap hari atau dua hari sekali. Bila tidak, kacang panjang akan terlalu tua dan keras. 
Hasil panen tanaman contoh sebesar 0,2 kg dan bukan tanaman contoh 2,7 kg. Pemanenan hanya dilakukan satu kali karena waktu tidak memungkinkan untuk memanen lagi. Dari hasil panen sepuluh tanaman contoh diperoleh data sebagai berikut:
Panjang polong rata-rata (cm)
49,88
Jumlah polong rata-rata (biji)
15,9
Panjang polong akan berpengaruh dalam jumlah polong. Semakin panjang palong seharusnya jumlah polong semakin banyak. Data ini akan berguna apabila tujuan penanaman kacang panjang adalah digunakan sebai benih.
            Sebelum dipasarkan (pasca panen), kacang panjang perlu disortasi atau pemilahan berdasarkan kualitas dan keseragaman, polong kacang panjang dipilah antara yang baik dan yang cacat. Apabila perlu, kacang panjang bisa dikemas, namun tergantung tempat pemasaran. Kacang panjang yang dipasarkan di pasar tradisional biasanya tidak dikemas. Namun bila dipasarkan di supermarket perlu dilakukan pengemasan.

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
            Budidaya tanaman hortikultura dilakukan pada semua tahap: pre nursery, main nursery dan lapangan. Namun tidak semua komoditas mengalami hal tersebut. Tanaman terong dan cabai merupakan contoh tanaman yang harus melalui proses persemaian sebelum masa tanam lapang. Tanaman hortikultura adalah tanaman yang memerlukan banyak air dan perawatan yang intensif. Hasil panen pada praktikum ini menunjukkan nilai yang kecil dikarenakan berbagai hal, diantaranya kondisi tanah yang kurang subur (top soil telah hilang) dan perawatan serta penyiraman yang kurang intensif.

SARAN
            Kondisi lahan yang ada harus dioptimalkan dengan perlakuan sistem bera. Persediaan benih dan bibit harus ada dalam jumlah yang cukup sehingga tidak lagi terjadi kekurangan benih dan lahan yang ada menjadi sia-sia. Peralatan yang ada harus diperbaiki dan ditambah, banyak didapati alat yang sudah tidak layak pakai dan dapat membahayakan pengguna dan sekitarnya. Waktu persemaian dan penanaman tanaman yang membutuhkan waktu lama untuk panen harus dipercepat agar dapat sampai pada masa panen.

BAB 2.
GREENHOUSE
Pengertian dan Jenis Greenhouse
            Budidaya tanaman dengan system hidroponik pada umumnya dilakukan di dalam greenhouse. Istilah yang sering digunakan untuk terjemahan greenhouse adalah rumah kaca. Namun, hal ini tidak lagi sesuai karena sebagian besar greenhouse di Indonesia justru dibangun tidak lagi menggunakan kaca sebagai bahan penutup tetapi menggunakan plastik. Oleh karena itu, penulis memperkenalkan istilah rumah tanaman sebagai terjemahan greenhouse (Suhardiyanto, 2009).
Penggunaan rumah tanaman di kawasan yang beriklim tropika basah seperti Indonesia tentu saja berbeda dengan di kawasan subtropika. Di daerah yang beriklim tropika basah, rumah tanaman berfungsi sebagai bangunan perlindungan tanaman. Dalam hal ini, rumah tanaman lebih ditujukan untuk melindungi tanaman dari hujan, angin dan hama, mengurangi intensitas radiasi matahari yang berlebihan, mengurangi penguapan air dari daun dan media, serta memudahkan perawatan tanaman. Oleh karena itu, rancangan rumah tanaman di daerah beriklim tropika basah tidak meniru rancangan rumah tanaman di daerah yang beriklim subtropika yang umumnya ditujukan untuk melindungi tanaman dari suhu udara yang rendah pada musim dingin (Suhardiyanto, 2009)
Rumah kaca pada awalnya berkembang dari negara-negara subtropis dan dingin. Awal mula penggunaan greenhouse adalah sebagai alternatif untuk bercocok tanam dengan tidak terganggu oleh iklim. Dengan penggunaan greenhouse yang dilengkapi dengan system pengendalian lingkungan maka keadaan yang tidak sesuai dengan kondisi tumbuh tanaman dapat diatasi. Penggunaan greenhouse di daerah tropis sebenarnya memiliki tujuan untuk melindungi tanaman agar tidak terkena pengaruh buruk atau negative dari hujan, radiasi matahari yang tinggi dan agar terisolir atau aman dari serangan hama.
Greenhouse terdiri dari beberapa tipe yaitu, Lean to (single span), even span (two span equal), disusun sebagai single unit (detached houses) atau bergabung dengan gutter connected (ridge and furrow). Dengan menggunakan single unit maka ventilasi dan cahaya akan diterima dengan baik, namun biaya pengaturan suhu lebih mahal dibandingkan dengan tipe Greenhouse lain. Selain itu, dengan menggunakan tipe ridge and furrow maka pemeliharaan akan sulit dilakukan dan efisien dalam pemanfaatan energi.
Menurut strukturnya, greenhouse terbagi menjadi :
a) Shade house (Rumah Naungan).
Struktur bangunan ini terbuat dari rangkaian naungan dari bahan material yang memungkinkan cahaya matahari, kelembaban dan udara dapat masuk melalui celah-celah. Bahan materi penutup bangunan digunakan untuk memodifikasi lingkungan yang secara khusus digunakan untuk mengurangi cahaya sekaligus melindungi tanaman dari kondisi cuaca yang kurang menguntungkan. Ketinggian struktur bangunan tersebut bervariasi tergantung pada jenis tanaman yang akan dibudidayakan yaitu lebih kurang 8 meter.



b) Screen house (Rumah Kaca/Plastik).
Bangunan ini terbuat dari plastik atau kaca yang dibuat untuk melindungi tanaman dari serangan hama. Screen house ini banyak dijumpai di daerah-daerah panas atau beriklim tropis.
c) Crop top structures (Struktur Puncak Tanaman).
Greenhouse pada katagori ini dibuat atap tanpa ada dinding. Atapnya bisa terbuat dari plastik atau kaca, kain (shade cloth), atau ram nyamuk (insect screening). Struktur ini dibuat sedemikian rupa untuk melindungi tanaman dari air hujan atau mengurangi intensitas cahaya.
Heat Unit
Heat Unit merupakan control utama dari greenhouse atau kumpulan greenhouse. Fungi dari heat unit adalah untuk mengatur penyiraman dan pemberian pupuk pada budidaya hidroponik. Pengaturan ini termasuk jumlah dan waktu pemberian pupuk dan air. Pengaturan ini dilakukan oleh computer dan memudahkan untuk mengelola beberapa greenhouse sekaligus.

Komoditi Tanaman Budidaya Dalam Greenhouse
Tanaman yang terutama dapat dibudidayakan dalam greenhouse adalah komoditi hortikultura yang umumnya tidak berkayu dan berukuran kecil. Seperti sayur-sayuran (tomat, cabai, paprika), tanaman hias, tanaman obat dan tanaman buah. Umumnya tanaman tersebut bernilai komersial tinggi, membutuhkan perawatan intensif dan membutuhkan wadah tanam.

Media Tanam
Media media tanam merupakan komponen utama ketika akan bercocok tanam. Media tanam merupakan penyuplai air dan oksigen, nutrisi serta mempertahankan agar  wadah tetap tegak. Oleh karena itu, perlu dilakukan pemilihan atau formulasi media tanam yang sesuai dengan kebutuhan tanaman. Menentukan media tanam yang tepat dan standar untuk jenis tanaman yang berbeda habitat asalnya merupakan hal yang sulit. Hal ini dikarenakan setiap daerah memiliki kelembapan dan kecepatan angin yang berbeda. Secara umum, media tanam harus dapat menjaga kelembapan daerah sekitar akar, menyediakan cukup udara, dan dapat menahan ketersediaan unsur hara.

Syarat-syarat Green House Daerah Tropik
Green house untuk daerah tropis sangat memungkinkan dan mempunyai banyak keuntungan dalam produksi dan budidaya tanaman. Produksi dapat dilakukan sepanjang tahun, dimana produksi dalam lahan yang terbuka tidak memungkinkan karena adanya hujan yang sering dan angin yang kencang.
Kebutuhan dan tujuan utama dari greenhouse dan bangunan konstruksinya untuk daerah tropis adalah 1) melindungi tanaman dari hujan yang sangat lebat yang dapat terjadi secara berlebihan, tingginya radiasi matahari dan angin, 2) efisiensi ventilasi yang tinggi, 3) jangka waktu penggunaan plastik film (sekali dalam satu tahun) dan 4) pengumpulan air untuk irigasi dalam musim kemarau. Struktur greenhouse di daerah tropis sering menggunakan sisinya untuk melindungi dan mengontrol suhu dengan menggunakan ventilasi alamiah maupun terkontrol dengan dilapisi jala (screens) yang mampu mengurangi serangan serangga dan hama.
Penggunaan greenhouse pada daearah tropis harus memperhatikan suhu greenhouse tersebut. Daerah yang beriklim tropis cenderung memiliki radiasi matahari yang cukup tinggi, oleh karena itu suhu di dalam greenhouse harus sama dengan suhu di luar greenhouse. Kejadian yang sering terjadi pada penggunaan greenhouse di daerah beriklim tropis adalah suhu di dalam green house lebih tinggi dibandingkan suhu di luar greenhouse, hal inilah yang menyebabkan tanaman tumbuh tidak optimal. Adapun cara untuk menyiasati agar suhu di dalam greenhouse bisa sama dengan suhu di luar greenhouse adalah dengan cara membuat ventilasi udara yang cukup. Ventilasi ini nantinya akan mengeluarkan sebagian udara panas yang ada di dalam greenhouse. Syarat ideal suatu ventilasi pada greenhouse adalah 40 % dari luas lantai.
Masalah yang sering terjadi di Greenhouse yang ada di lingkungan tropis adalah masalah kebersihan atap greenhouse dari lumut. Atap greenhouse yang berlumut dapat dibersihkan melalui pencucian, namun kita juga harus memperhatikan jenis tanaman di dalam greenhouse tersebut. Apabila tanaman tidak memerlukan banyak cahaya maka pencucian tidak perlu dilakukan.
Untuk mendesain Greenhouse yang baik, sebaiknya tidak terletak secara sejajar, melainkan terletak secara zig-zag agar aliran udara dapat menyebar, dan greenhouse tidak terconnecting serta arah pembuatan dari utara ke selatan. Hal ini dilakukan untuk menghindari adanya penutupan cahaya akibat dari bayangan tanaman maupun bayangan greenhouse yang menutupi cahaya bagi tumbuhnya tanaman.

Greenhouse di Cikabayan
Pada praktikum dasar-dasar hortikultura diperkenalkan bangunan greenhouse sebagai upaya untuk peningkatan hasil produk pertanian. Lokasi greenhouse ini berada di Kebun Percobaan Cikabayan. Di Kebun percobaan Cikabayan ini, terdapat Greenhouse sebanyak 28 bangunan.
            Greenhouse yang pertama kali di kunjungi adalah greenhouse nomor 3. Ketika memasuki, alas kaki harus dilepas, karena agar bibit penyakit yang terbawa bersama sepatu tidak masuk ke dalam areal greenhouse. Di dalam greenhouse ini terdapat beberapa alat yang mendukung pertumbuhan tanaman seperti Disk Fan yang berfungsi untuk mengatur RH dan suhu. Ketika suhu naik, maka Disk Fan ini akan mengeluarkan butiran-butiran air yang halus sehingga akan menurunkan suhu dalam greenhouse.
Sistem pengaturan greenhouse di kebun percobaan Cikabayan ini dilakukan secara otomatis yang dijalankan oleh sistem komputer dan manual. Namun untuk bahan penelitian, sebagian besar menggunakan cara yang manual karena menghindari kemungkinan terhambatnya aliran listrik.

KESIMPULAN DAN SARAN

Ada beberapa aspek penting yang harus diperhatikan ketika kita membuat sebuah green house. Keadaan tempat mempengaruhi bentuk green house tersebut. Bagaimana kita harus memperhatikan dinding dengan lantai, sistem irigasi maupun posisi pencahayaannya. Pemeliharaan juga harus diperhatikan agar green house tetap terawat dan terlindung dari patogen yang dapat menganggu produktifitas tanaman.

BAB 3.

NURSERY

PENDAHULUAN
Tanaman hortikultura terdiri dari tanaman sayur, buah, obat, dan tanaman hias. Kunjungan ke nursery pada praktikum ini merupakan kunjungan ke salah satu aspek hortikultura yakni tanaman buah. Sesuai dengan namanya, nursery yang berarti pembibitan, praktikum yang dilakukan adalah berupa kunjungan ke tempat pembibitan tanaman buah yang terdapat di kebun percobaan Cikabayan.
Di kebun ini terdapat berbagai macam bibit yang telah disediakan untuk keperluan praktikum pengenalan berbagai macam jenis bibit tanaman buah. Praktikan diajak berkeliling di nursery dengan didampingi oleh asisten praktikum sebagai informan. Dengan berkunjung ke nursery mahasiswa mengetahui apa dan bagaimana pembibitan itu. Pembibitan merupakan salah satu rantai dalam proses perbanyakan tanaman yang kebanyakan dilakukan secara buatan (vegetatif).
Di dalam nursery bibit tanaman mendapatkan perawatan yang intensif dan mendapatkan berbagai macam perlakuan khusus sesuai dengan jenis dan usia tanaman guna memaksimalkan hasil yang sesuai dengan keinginan pemilik atau calon pembeli.

BAHAN DAN METODE
BAHAN
            Bahan yang digunakan adalah beberapa koleksi contoh bibit tanaman buah yang telah tersedia di nursery di kebun percobaan Cikabayan.
METODE
            Metode pembelajaran yang digunakan adalah dengan cara berkeliling langsung di nursery yang terdapat di kebun percobaan Cikabayan. Praktikan mengamati berbagai macam bibit dan mencatat informasi umum yang diberikan oleh asisten praktikum.

HASIL DAN PEMBAHASAN

            Berikut ini merupakan tabel yang berisi keterangan umum mengenai macam-macam bibit tanaman buah yang terdapat di nursery di kebun percobaan Cikabayan. Keterangan yang diberikan mencakup nama buah, varietas yang ada di nursery atau yang umum ditanam, teknik perbanyakan, syarat tumbuh, usia panen dan penjualan, jarak tanam dan informasi harga jual.

KESIMPULAN DAN SARAN

KESIMPULAN
Pada nursery yang terdapat di kebun Cikabayan tersedia berbagai jenis tanaman buah yang seluruhnya merupakan tanaman parennial. Dari kegiatan kunjungan ke nursery ini mahasiswa memperoleh pengetahuan tentang teknik budidaya atau perbanyakan, syarat tumbuh, usia, jarak tanam hingga harga masing-masing bibit tanaman buah yang ada.

SARAN
Nursery yang digunakan untuk praktikum sebaiknya ditata ulang sehingga menjadi lebih rapi. Koleksi tanaman buah yang ada sebaiknya dirawat dengan intensif sehingga ketika praktikan mengadakan kunjungan ke nursery praktikan dapat melihat bibit tanaman buah yang tumbuh baik seperti tanaman yang memang layak dijual. Selain itu penyampaian materi oleh asisten sebaiknya dilakukan di tempat yang lebih leluasa dan waktu penyampain materi sedikit lebih lama lagi sehingga praktikan nyaman dan fokus untuk mendengarkan serta memperoleh informasi yang jelas dan lengkap.



Nama
Famili
Kultivar
Cara Perbanyakan
Harga Bibit
Lama Pembibitan
Jarak Tanam
Srikaya (Annona squamosa L)
Annonaceae
Jumbo
biji, okulasi, sambung pucuk, dan cangkok
Rp45.000,00 - Rp60.000,00
1 tahun
3 x 4 meter
Manggis (Gracinia mangostana)
Clusiaceae
Gesing
okulasi, sambung pucuk, dan cangkok
Rp30.000,00 - Rp40.000,00
2 tahun
10 x 10 meter
Mangga (Mangifera indica)
Anarcadiaceae
Gadung, Arum Manis, Manalagi, lali jiwo, chokanan, golek
biji, okulasi, dan cangkok
Rp10.000,00
4 bulan
6 x 8 meter
Jeruk  (Citrus sp.)
Rutaceae
Keprok, Nipis, Bali, Lemon, dan Purut
biji, penyambungan/penempelan tunas/mata tunas
Rp20.000,00

5 x 5, 7 x 7, 6 x 7, 4 x 4 dan 8 x 8 meter
Rambutan (N. lappaceum)
Sapindaceae
Rapiah, Binjai, Si Nyonya, Garuda, Bahrang, dan Lebak Bulus
biji, okulasi, sambung pucuk, dan cangkok
Rp30.000,00 untuk bibit yang memiliki ketinggian 50-70 cm. Harga bevariasi bergantung pada musim panen dan masing-masing daerah penjualan
1 - 1,5 bulan
12 x 12 sampai 14  x 14 meter
Durian (D.zibenthinus)
Malvaceae
Monthong, Matahari, Parung, Lampung, dan Medan
biji, sambung pucuk, grafting, dan okulasi
Rp350.000,00 untuk durian Monthong dalam pot yang berusia 2-3 tahun dan Rp150.000,00 untuk durian matahari dengan usia yang sama
1,5 tahun
8 x 12 dan 10 x 10 meter
Jambu Biji (P.guajava)
Myrtaceae
Kristal
grafting, cangkok, dan okulasi
Mulai dari Rp15.000,00 (bervariasi sesuai dengan ukuran)
2-3 tahun
8 x 8 meter
Jambu air (Eugenia aquea)
Myrtaceae

biji, cangkok
Mulai dari Rp50.000,00 (bervariasi sesuai dengan ukuran)

5 x 5 meter
Pisang (Musa paradisiaca)
Musaceae
Ambon, Susu, Kepok
secara vegetatif berupa tunas (anakan)
Rp2.000,00 - Rp2.500,00

3 x 3 meter
Kelengkeng (D. longan)
Sapindaceae
Pingpong, Diamond, dan Itoh
biji dan okulasi
Rp75.000,00
6 bulan
8 x 10 meter
Sirsak (Annona muricata L)
Annonaceae
Ratu (Pelabuhan Ratu), Biasa (terdapat dimana saja), Bali(terdapat di Bali), Mandalica (mirip buah nona, agak bulat)
biji, okulasi, dan cangkok


4 x 6 meter
Belimbing (A. carambola)

Dewi, Demak, Paris, Bangkok
benih, cangkok, dan okulasi
Rp10.000,00 untuk bibit yang belum berproduksi dan Rp200.000,00 untuk bibit yang sudah mampu berproduksi (menghasilkan buah)


Apukad (P. americana)
Lauraceae












DAFTAR PUSTAKA

East West Seed Indonesia.  2006.  Deskripsi beberapa varietas caisim. PT. East West Seed Indonesia. Purwakarta.
Hardjowigeno, S. 2003. Ilmu Tanah.  Akademika Presindo, Jakarta
Haryanto B, Suhartini T, Rahayu E, dan Sunarjo.  2006.  Sawi dan Selada. Penebar Swadaya.  Jakarta
Murbandono. 1990.  Membuat Kompos.  Cetakan Keenam.  PT Swadaya Jakarta.
Nazaruddin. 2003. Budidaya dan Pengaturan Panen Sayuran Dataran Rendah. Jakarta: Penebar Swadaya.
Opena, R. T and D. C. S Tay.  1994.  Brassica rapa L.  Group Caisim.  Hal 153-157. J. S. Simonsma dan K. Pileuk.  Plant Recource of Sout-East Asia, Vegetable.  PROSEA Foundation
Palungkun, R dan Budiarti, A. 1993.  Sweet Corn and Baby Corn.  Penebar Swadaya.  Jakarta
Perdana, D. 2009. Budidaya Kacang Panjang. [terhubung berkala]. http://dimasadityaperdana.blogspot.com (19 Mei 2012)
Sarief, S. 1989.  Kesuburan dan pemupukan tanah pertanian.  Pustaka Buana.  Bandung.
Soepardi, G. 1983.  Sifat dan Ciri Tanah.  Institut Pertanian Bogor.  Bogor
Suhardiyanto, H. 2009. Teknologi Rumah Tanaman untuk Iklim Tropika Basah : Pemodelan dan Pengendalian Lingkungan. IPB Press, Bogor.
William, C.N., Uzo dan Peregrine. 1993. Produksi Sayuran Di Daerah Tropika. Penerjemah Soedharoedjian R. Gadjah Mada University Press: Yogyakarta.

No comments:

Post a Comment